KENALI DIRI


Kenali Diri


by : Masgartha Kuartanegra
ISLAM yang telah Allah redhakan untuk menjadi agama kita, dan disampaikan melalui utusan-Nya Nabi Muhammad SAW merupakan satu syariat yang mencakup persoalan hidup lahir dan batin. Syariat lahir disebut syariat. Syariat batin disebut hakikat. Hal itu sangat sesuai dengan struktur kejadian manusia itu sendiri yang merupakan kombinasi antara jasad lahir dan jasad batin.

Jasad lahir adalah semua anggota tubuh kita yang nampak dengan mata. Sedangkan jasad batin adalah jasad gaib yang menggerakkan seluruh anggota lahir. Jasad batin dapat merasa, mengingat, memikirkan, mengetahui, memahami segala sesuatu yang terjadi di dalam diri kita masing-masing. Allah SWT menetapkan bahwa syariat lahir untuk diamalkan oleh jasad lahir sedangkan syariat batin untuk diamalkan oleh jasad batin yaitu ruh.

Sesuai dengan keadaan lahir batin kita yang saling berkaitan erat tanpa terpisah-pisah maka begitu pula amalan lahir dan batin wajib dilaksanakan secara serentak di setiap waktu dan keadaan. Kalau kita membeda-bedakan atau menolak salah satu dari amalan itu, maka kita tidak mungkin menjadi hamba Allah yang sebenarnya sebab Islam memandang syariat itu sebagai kulit, sedangkan hakikat itu adalah intipati.

Kedua-duanya sama-sama penting dan saling memerlukan, ibarat kulit dan isi pada buah-buahan. Keduanya mesti ada untuk kesempurnaan wujud buah itu sendiri. Tanpa kulit, isi tidak selamat malah isi tidak mungkin ada kalau kulit tidak ada. Sebaliknya tanpa isi, kulit jadi tidak berarti apa-apa. Sebab buah yang dimakan adalah isinya bukan kulitnya.

Begitu juga hubungan syariat dan hakikat. Keduanya mesti diterima dan diamalkan serentak. Keduanya saling mengisi dan memerlukan. Kalau kita bersyariat saja (artinya berkulit saja tanpa isi), itu tidak membawa arti apa-apa di sisi Allah.

Sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya : “Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu.” (Riwayat : Muslim)

Sebaliknya kalau kita berhakikat saja (isi tanpa kulit), maka tidak ada jaminan keselamatan dari Allah SWT. Hakikat itu akan mudah rusak, dan kita sama sekali tidak akan memperoleh apa-apa, bahkan agama Islam yang kita anut akan rusak tanpa kita sadari.
Berkata Imam Malik Rahimahullahu Taala:
Terjemahannya : “Barangsiapa berfiqih (syariat) dan tidak bertasawuf maka ia jadi fasik. Barangsiapayang bertasawuf (hakikat) tanpa fiqih maka ia adalah kafir zindik.”
Artinya kita mesti mengamalkan keduanya sekaligus, yaitu syariat dan hakikat. Kalau kita pilih salah satu, kita tidak akan selamat. Kalau kita bersyariat saja tanpa dilindungi oleh hakikat, kita akan menjadi fasik. Dan kalau kita berhakikat saja tanpa dikawal oleh syariat, maka hakikat itu akan mudah rusak sehingga kita jatuh kafir zindik (kafir tanpa sadar).

Begitulah pentingnya syariat dan hakikat. Tetapi bila kedua-duanya ada, maka hakikatlah yang lebih utama.

Seperti dalam sabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya : Allah tidak memandang rupa dan harta kamu tetapi Dia memandang hati dan amalan kamu. (Riwayat : Muslim)

Hadis itu tidak bermaksud bahwa syariat tidak penting. Bahkan syariat juga adalah hukum-hukum fardhu yang wajib diamalkan oleh seluruh umat Islam. Hanya saja dalam keadaan keduanya (syariat dan hakikat) itu sama-sama diamalkan, Allah memberi keutamaan pada amalan hakikat. Perbandingannya seperti antara kulit dan isi buah. Kedua-duanya sama penting, tetapi manusia memberi keutamaan pada isi sebab bisa dimakan.

Begitulah peranan hakikat. Peranannya menentukan berakhlak atau tidaknya seorang manusia kepada Allah dan kepada sesama manusia. Orang yang kuat amalan batinnya atau tinggi pencapaian tasawufnya adalah orang yang hatinya selalu dekat dengan Allah. Ia senantiasa merasakan kebesaran Allah, dibandingkan dirinya yang maha lemah dan senantiasa memerlukan pertolongan Allah. Ia sangat beradab dengan Allah dan dapat mengorbankan dunia untuk Tuhannya. Ia juga mampu mengasihi semua manusia, bersedia susah untuk manusia dan akan menyelamatkan manusia dari tipuan dunia, nafsu dan syaitan.
Sebaliknya orang yang lemah dalam amalan batin adalah orang yang hatinya jauh dan terpisah dari Allah. Ia tidak takut dengan Allah, tidak malu, tidak harap, dan tidak cinta kepada Allah. Ia tidak redha dan tidak sabar, kurang beradab dengan Allah, penuh hasad dengki, sombong, bakhil, dendam dan pemarah. Ia akan menjadi seorang pencinta dunia yang bekerja keras hanya untuk dunianya. Orang seperti itu selalu dibelenggu oleh kecintaan kepada dunia hingga takut berjuang dan berjihad untuk agama Allah serta untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Orang yang tidak berhakikat, sekalipun melakukan ibadah shalat, puasa, dan banyak membaca Al Quran serta gigih berjuang adalah orang yang kurang berakhlak dengan Allah dan kurang berakhlak dengan manusia.

Kurangnya amalan batin dapat menyebabkan orang-orang yang tidak berhakikat itu biasanya mati dalam dosa yang tidak sadar. Mungkin dosa karena buruk sangka dengan Allah, putus asa dengan ketentuan Allah, tidak redha dengan takdir Allah atau dosa karena merasa bahwa amalannya lah yang akan menyelamatkan dirinya dari neraka Allah.

Rasa riya’, ujub atau merasa diri bersih itu pun adalah dosa batin. Dosa batin, tak seorang pun yang dapat melihatnya, bahkan diri sendiri pun tidak dapat merasakannya. Hanya orang yang mempunyai basirah (pandangan hati yang tembus) saja yang dapat mengetahuinya.

Nanti, bila Allah bukakan segala kesalahan (dosa-dosa batin itu) di akhirat, barulah manusia akan terkejut dan tersentak.

Ulama tasawuf berkata:
“Biarlah sedikit amalan beserta rasa takut pada Allah, karena itu lebih baik daripada banyak amalan tetapi tidak ada rasa takut dengan Allah. Lebih baik orang yang merasa berdosa dan bersalah dengan Allah daripada orang yang banyak amalan tetapi tidak rasa berdosa pada Allah bahkan dia merasa telah cukup dengan amalan itu.”

Firman Allah :
Terjemahannya : Hari kiamat ialah hari dimana harta dan anak-anak tidak dapat memberi manfaat, kecuali mereka yang menghadap Allah membawa hati yang selamat sejahtera.(Asy Syuara: 88-89)

Hati yang selamat sejahtera ialah hati orang bertaqwa yang berisi iman, yakin, ikhlas, redha, sabar, syukur, tawakal, takut, harap dan lain-lain rasa hati dengan Allah SWT. Hati yang senantiasa merasa sehat dalam kesakitan, kaya dalam kemiskinan, ramai dalam kesendirian, lapang dalam kesempitan dan terhibur dalam kesusahan. Ia bersikap redha dengan apa saja pemberian Tuhan-Nya.

Untuk memperoleh hati yang seperti itu, kita mesti bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu untuk melakukan amalan lahir dan batin (syariat dan hakikat). Kedua-duanya akan saling mengawal untuk mengangkat kita ke taraf taqwa.

Syariat dan hakikat akan mendidik dan memimpin kita menjadi seorang insan kamil yang mampu memenuhi keinginan dan keperluan fitrah murni manusia secara suci lagi mulia. Orang seperti itulah yang Allah maksudkan sebagai golongan As Siddiqin atau golongan Al ‘Arifin. Sifat mereka Allah uraikan dalam Surah Al Furqaan ayat 63-74:
Merekalah orang-orang bertaqwa yang akan memperoleh ketenangan hidup di dunia dan di akhirat. Mereka adalah tempat untuk kita mempelajari dan mencontoh kehidupan yang aman dan bahagia. Suasana seperti itu pernah terjadi, yaitu dalam kehidupan salafussoleh. Mereka telah menjalani suatu kehidupan, di mana mereka menerima dan mengamalkan sepenuhnya kehendak syariat dan hakikat. Hasilnya, mereka (para salafussoleh) menjadi orang-orang yang bahagia dan membahagiakan orang lain.
Sejarah 15 abad yang silam memberitahu kepada kita bahwa 3/4 dunia menjadi tenang, aman dan damai di bawah pemerintahan mereka. Kawan maupun lawan merasa selamat berada di dalam kekuasaan mereka. Demikianlah satu kenyataan yang membuktikan bahwa sekiranya manusia patuh menjalani syariat lahir dan batin, maka selamat dan berbahagialah mereka di dunia dan di akhirat.

Iklan

AMALAN LAHIR DAN AMALAN BATIN


AMALAN LAHIR DAN AMALAN BATIN
by : Masgartha Kuartanegera
SYARIAT ialah amalan-amalan lahir yang diperintahkan kepada umat Islam baik wajib maupun sunat. Dan apa saja yang dilarang baik yang haram atau makruh termasuk juga amalan-amalan yang kedudukannya mubah.

Syariat lahir terbagi dua :

1. Hablumminallah
2. Hablumminannas

Hablumminallah ialah amalan-amalan yang termasuk persoalan ibadah. Contohnya solat, puasa, zakat, haji, baca Al Quran, doa, zikir, tahlil, selawat dan lain-lain.

Hablumminannas ialah amalan-amalan lahir kita yang termasuk dalam bidang-bidang muamalat (kerja-kerja yang ada hubungannya dengan masyarakat), munakahat (persoalan kekeluargaan) dan jenayah serta tarbiah Islamiah, soal-soal siasah, fisabilillah, jihad dan persoalan alam beserta isinya.

Sedangkan HAKIKAT ialah amalan batin yang diperintahkan ataupun yang dilarang oleh Allah SWT kepada umat Islam. Amalan yang diperintahkan, dikenal sebagai sifat mahmudah (sifat-sifat terpuji) dan yang dilarang ialah sifat mazmumah (sifat-sifat terkeji).
Hakikat juga terbagi dua :

1. Berakhlak dengan Allah
2. Berakhlak dengan manusia

Bentuk-bentuk akhlak dengan Allah di antaranya ialah :

Mengenal Allah dengan yakin
Merasakan kehebatan Allah
Merasa gentar dengan Neraka Allah
Merasa senantiasa diawasi oleh Allah
Merasa hina diri dan malu dengan Allah
Merasa redha terhadap setiap takdir dan ketentuan Allah SWT
Sabar dengan berbagai ujian Allah
Mensyukuri nikmat-nikmat pemberian Allah
Mencintai Allah
Merasa takut pada Allah atas kelalaian dan dosa-dosa
Tawakal kepada Allah
Merasa harap pada rahmat Allah
Rindu pada Allah
Senantiasa mengingat Allah
Rindu pada syurga Allah karena ingin bertemu dengan-Nya
Bentuk-bentuk akhlak kepada manusia :
Mengasihinya sebagaimana kita mengasihi diri kita sendiri
Merasa gembira di atas kegembiraannya dan turut berdukacita karena kedukacitaannya
Menginginkan kebahagiaan untuknya di samping berharap agar musibah menjauhinya
Benci pada kejahatannya tetapi kasihan pada dirinya hingga timbul perasaan untuk menasehatinya
Pemurah padanya
Bertenggang rasa dengannya
Mengenang jasanya dan berusaha membalasnya karena Allah

Memaafkan kesalahannya dan sanggup meminta maaf atas kesalahan padanya
Kebaikannya disanjung dan diikuti, kejahatannya dinasehati dan dirahasiakan.

Lapang dada berhadapan dengan macam-macam manusia, Bersikap baik sangka kepada sesame orang Islam. Tawadhuk dengan sesama manusia.

Keduanya, syariat dan hakikat adalah perkara yang sangat penting untuk membentuk pribadi yang benar-benar bertakwa dan terlepas dari sifat-sifat munafik.

Kita wajib mengamalkan keduanya secara serentak dan seiring. Namun mesti diakui bahwa tidak mudah bagi kita untuk mengamalkannya.

Allah SWT menjelaskan hal itu dengan firman-Nya dalam surah Al Baqarah :
Terjemahannya :
“Mintalah bantuan dalam urusanmu dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu adalah sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa kepada-Nya lah mereka akan kembali.” (Al Baqarah : 45)

Allah SWT mengatakan untuk menjadi orang yang sabar itu susah dan untuk menjadi orang-orang yang tetap mengerjakan shalat itu juga susah. Maknanya amalan lahir dan batin itu memang susah untuk diamalkan. Tetapi hal itu menjadi mudah bila kita dapat memiliki sesuatu yang lebih penting dari keduanya yaitu rasa khusyuk dengan Allah (rasa diawasi Allah setiap masa), yakni yakin dengan pertemuan dan pengembalian diri ke hadirat Allah SWT di akhirat nanti.

Dari situ kita akan faham bahwa di antara amalan lahir dan batin, yang mesti diberatkan dan didahulukan pada diri kita ialah amalan batin. Kita berusaha dulu mendapatkan rasa khusyuk atau yakin akan kewujudan Allah serta pertemuan kembali kita dengan-Nya di satu hari nanti, barulah kita akan memiliki kekuatan untuk mengamalkan syariat dan hakikat.

Tanpa rasa khusyuk itu, kita tidak akan dapat mengalahkan hawa nafsu dan syaitan yang senantiasa bersungguh-sungguh mengajak kita mendurhakai Allah.
Itulah panduan kita untuk memperjuangkan Islam dalam diri kita. Yang mesti didahulukan ialah berusaha supaya hati kita berubah, dari hati yang tidak kenal Allah kepada hati yang khusyuk dan cinta kepada Allah. Dari hati yang lalai kepada hati yang senantiasa mengingat Allah.
Bila hati sudah cinta pada Allah, kita akan merasa ringan dalam menerima dan mengamalkan syariat Allah lahir dan batin

PEMIMPIN YANG RENDAH HATI


PEMIMPIN
Oleh Fatchiah E. Kertamuda

Sosok pemimpin yang rendah hati (humble) mulai langka ditemui di negeri ini. Ironisnya, pemimpin yang ada saat ini menunjukkan arogansinya di setiap kesempatan. Banyak pemimpin yang berpikir menjadi pemimpin adalah melakukan tugas, memiliki otoritas, memiliki posisi untuk memberikan perintah kepada orang yang dipimpin, memiliki kemampuan untuk mendapatkan pengaruh atas orang lain karena kepandaiannya.

Menjadi pemimpin yang humble berarti dia harus mendorong orang yang dipimpinnya dan memberikan mereka penghargaan dan pemimpin memberikannya sesuai haknya. Oleh karena itu untuk menjadi pemimpin yang rendah hati perlu memiliki kemampuan yang tidak hanya sekadar pengetahuan, keterampilan dan bakat saja.

Jim Collins (2005) dalam artikelnya yang berjudul “Level 5 Leadership: A Triumph of Humility” menyatakan bahwa untuk menjadi pemimpin yang hebat, salah satunya dia harus mencapai level 5 dalam kepemimpinan. Level 5 merupakan level eksekutif, di mana seorang pemimpin telah memiliki ketahanan yang baik melalui kombinasi antara pribadi yang rendah hati dan sikap professional.

Namun, menurut Collins, untuk mencapai tingkat atau level 5 tersebut merupakan hal yang tidak mudah karena seorang calon pemimpin haruslah melalui level atau tingkat sebelumnya. Adapun tingkat sebelumnya adalah level 1, highly capable individual. Pada level ini, seorang pemimpin baru membuat kontribusi yang produktif melalui pengetahuan, bakat, ketrampilan dan kebiasaan baiknya dalam bekerja.
Apabila dilihat, level ini merupakan tingkat awal untuk menguji keterandalan kemapuannya dari berbagai hal. Melalui tahap ini merupakan hal yang akan membawanya memberikan suatu kemajuan bagi institusi yang dipimpinnya.

Pada level 2 yaitu contributing team member, seorang pemimpin turut berkontribusi meraih prestasi dalam meraih tujuan kelompok. Selain itu, pemimpin juga bekerja secara efektif dengan orang lain dan mengatur kelompok yang dipimpinnya.

Selanjutnya level 3 yaitu competent manager, peran pemimpin pada level ini adalah mengorganisir orang yang dipimpinnya dan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai target dan tujuan yang telah ditetapkan. Faktor penting pada level ini adalah bagaimana pemimpin mampu bekerja sama dan sama-sama bekerja dengan orang-orang yang dipimpinnya agar visi misi institusi yang dipimpinnya dapat diraih.

Pada level 4, effective leader, pemimpin mulai mengkatalisis komitmen dan berusaha dengan kuat untuk mewujudkan visi dan menstimulasi kelompok untuk meraih kinerja yang tinggi. Pemimpin yang memiliki kemampuan ini akan dapat meraih suatu hasil yang diharapkan dengan terus memberikan motivasi dan semangat kerja dari orang-orang yang dipimpinnya secara bijaksana dan dengan penuh pertimbangan.

Perjuangan

Untuk melampau setiap level tersebut diperlukan perjuangan yang tidak mudah bagi seorang pemimpin. Setiap level tentu memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda bagi setiap pemimpin.
Namun, bila semua level tersebut dapat dilalui meskipun sulit maka dia akan dapat menjadi pemimpin yang humble. Perlu usaha dan kerja keras dan juga ketulusan hati untuk dapat sampai pada level 5 sebagai eksekutif yang memiliki pribadi rendah hati dan juga kemampuan secara profesional.

Penelitian yang dilakukan oleh Rowatt et al (2006) mengungkapkan untuk menjadi seseorang yang rendah hati diperlukan lima hal yaitu yaitu ketulusan (sincerity), kejujuran (fairness), terbuka (open-mindedness), respek terhadap orang lain, dan tidak arogan, egois atau sombong.

Pareena G Lawrence seorang professor Economics and Management dari University of Minnesota, USA, dalam tulisannya berjudul “Neohumility / Humility and Business Leadership: Do they belong together?” mengemukakan bahwa tingkat yang dasar dari suatu kondisi kerendahan hati (humility) adalah tidak sombong, bijaksana, sabar, peduli, dan tulus.

Kondisi tersebut akan mengantarkan seorang pemimin untuk menjadi pemimpin yang rendah hati sehingga dia akan berperilaku sopan dan mampu mengendalikan diri.
Nampaknya beberapa hal tentang dasar untuk menjadi pemimpin yang rendah hati tersebut sangat sederhana dan mudah, tetapi dalam kenyataannya hal tersebut sangat sulit. Meskipun setiap orang merasa bisa/mampu, tetapi tidak semua yang merasa sebagai pemimpin dapat melakukannya. Salah satu faktor penting mengapa hal itu terjadi adalah keinginan untuk melakukannya.

Keinginan merupakan faktor yang memang hanya muncul dari dalam lubuk hati terdalam dari seorang pemimpin. Dan hal tersebut hanya mampu dilakukan seorang pemimpin yang humble dan memiliki karakter yang memang terbentuk tidak dalam sekejap. Namun sosok yang telah mampu melampaui banyak rintangan, tantangan dan telah dapat mengatasinya dengan penuh kematangan, kedewasaan sehingga dia menjadi pemimpin yang rendah hati.

Meskipun masih terdapat faktor-faktor lain yang dapat mewujudkan pemimpin yang diharapkan. Namun paling tidak, rendah hati bagi seorang pemimpin menjadi factor penentu dalam menjalankan tugasnya. Dengan kerendahan hatinya, maka setiap perilaku dan tindakannya akan menjadi cerminan diri positifnya dan tidak mementingan keinginan dan kesenangan pribadinya. Akan tetapi, dia akan menjadi pemimpin yang peduli dan akan lebih menghargai orang lain. Hal ini akan membuatnya menjadi sosok yang memiliki kepekaan terhadap lingkungannya. Sikap ini mencerminkan kewibawaan dan karismatiknya di dalam kepemimpinannya.

Sudahkah pemimpin negeri ini memiliki paling tidak tingkat dasar agar menjadi rendah hati? Pertanyaan ini penting untuk menjadi pertimbangan dan introspeksi diri bagi setiap orang yang memiliki otoritas dan pengaruh kuat di lingkungannya.

Pemimpin yang didambakan adalah pemimpin yang tidak berfi kir terlalu ekstrim ataupun terlalu rendah, tetapi pemimpin yang dapat mengajak orang-orang yang dipimpinnya untuk “thinking just right “.

BANGGALAH MENJADI DIRI SENDIRI


Banggalah  Menjadi Diri Sendiri

 

“ Bersyukurlah kepada Allah. Dan Barang siapa yang bersyukur, maka syukurnya adalah untuk dirinya sendiri . “ ( Luqman : 12 )

 

Mensyukuri dan menikmati “ Anugerah “ adalah kata-kata yang sering kita dengar dan kita ucapkan. Kedua kata ini sangat mudah diucapkan atau disampaikan, tetapi faktanya sangat susah dalam proses aplikasinya.

 

Sebagian dari kita , mungkin ada yang merasa rendah diri ( minder ) karena kondisi fisiknya yang dinilai tidak ideal, atau sebagian dari kita merasa kurang gaul karena tidak memiliki apa yang menjadi trend di lingkungannya.

 

Salah satu contoh kasus adalah banyaknya tempat-tempat praktek untuk mempermak diri untuk menuju pada kesempurnaan sesuai dengan yang diinginkannya. Dengan segepok uang, kita dapat  melakukan operasi plastic, suntik silicon, sedot lemak, operasi kantung mata dan lain-lain operasi kecantikan.

 

Ada yang bilang, sejatinya setiap tindakan yang melawan fitrah, termasuk dalam hal ini fitrah penciptaan tidak akan mendapatkan sesuatu selain kegelisahan dan kekeceewaan. Dr. James Gordon gilkey mengatakan, “ Permasalahan ingin menjadi diri sendiri adalah sesuatu yang sudah lama dan sangat umum sekali pada kehidupan manusia, sebagaimana halnya dengan permasalahan ingin tidak menjadi diri sendiri, hal inilah yang menjadi sumber yang menimbulkan permasalahan PSIKOLOGIS .”

 

Angelo Battero ( penulis Buku tentang Pendidikan Anak ) berkata, “  Tidak ada orang yang paling menderita melebihi orang yang tumbuh tidak menjadi dirinya sendiri, tumbuh tidak menjadi jasadnya sendiri, dan tidak menjadi pikirannya sendiri.”

 

Karena itu, Syukuri dan Nikmatilah apa yang ada….

 

Ketika kita bersyukur atas apa yang kita miliki, maka pada dasarnya kita sedang menyayangi diri sendiri. Hal sebaliknya, ketika kita mengkufuri , maka sesungguhnya kita sedang menjerumuskan diri kita pada kebinasaan. Wallahualam.

 

Rasulullah Saw bersabda, “ Apabila seseorang melihat orang cacat lalu berkata ( tanpa didengar orang lain ) , Alhamdulillah yang telah menyelamatkan / menjauhkan aku dari apa yang diujikan Allah kepadanya dan melebihkan aku dengan kelebihan sempurna atas kebanyakan makhluknya, maka dia tidak akan terkena ujian seperti  itu betapapun keadaannya. “ ( Riwayat Abu Dawud ).

 

Dengan senantiasa bersyukur , kekurangan-kekurangan yang ada akan menjadi alat kelebihan bagi kita dalam mendekatkan diri kita kepada Allah. Insyaallah.

 

 

 

Catatan tuk diri sendiri.

Pidato BJ Habibie dalam rangka Memperingati Hari Lahir Pancasila


Rabu, 01/06/2011 11:33 WIB

Pidato Lengkap BJ Habibie yang Memukau

Rachmadin Ismail – detikNews

Jakarta – Mantan Presiden BJ Habibie mengungkapan secara tepat analisanya mengenai penyebab nilai-nilai Pancasila yang seolah-olah diabaikan pasca era reformasi. Tak heran bila pidato yang disampaikannya secara berapi-api itu memukau para hadirin puncak peringatan Hari Lahir Pancasila.

Acara itu dihadiri oleh Presiden Kelima Megawati dan Presiden SBY. Mereka berpidato bergiliran. Berikut ini teks pidato lengkap Habibie yang disampaikan dalam acara yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2011).

Assalamu ‘alaikum wr wb, salam sejahtera untuk kita semua.

Hari ini tanggal 1 Juni 2011, enam puluh enam tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai philosofische grondslag (dasar filosofis) atau sebagai weltanschauung (pandangan hidup) bagi Indonesia Merdeka.

Selama enam puluh enam tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap jaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Sejak 1998, kita memasuki era reformasi. Di satu sisi, kita menyambut gembira munculnya fajar reformasi yang diikuti gelombang demokratisasi di berbagai bidang. Namun bersamaan dengan kemajuan kehidupan demokrasi tersebut, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Di manakah Pancasila kini berada?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena sejak reformasi 1998, Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Mengapa hal itu terjadi? Mengapa seolah kita melupakan Pancasila?

Para hadirin yang berbahagia,

Ada sejumlah penjelasan, mengapa Pancasila seolah “lenyap” dari kehidupan kita. Pertama, situasi dan lingkungan kehidupan bangsa yang telah berubah baik di tingkat domestik, regional maupun global. Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 66 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang kita alami antara lain:

(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;

(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);

(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.

Ketiga perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Kebelum-berhasilan kita melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Kedua, terjadinya euphoria reformasi sebagai akibat dari traumatisnya masyarakat terhadap penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu yang mengatasnamakan Pancasila. Semangat generasi reformasi untuk menanggalkan segala hal yang dipahaminya sebagai bagian dari masa lalu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai grundnorm (norma dasar) yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Sebagai ilustrasi misalnya, penolakan terhadap segala hal yang berhubungan dengan Orde Baru, menjadi penyebab mengapa Pancasila kini absen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Harus diakui, di masa lalu memang terjadi mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis, terstruktur dan massif yang tidak jarang kemudian menjadi senjata ideologis untuk mengelompokkan mereka yang tak sepaham dengan pemerintah sebagai “tidak Pancasilais” atau “anti Pancasila” . Pancasila diposisikan sebagai alat penguasa melalui monopoli pemaknaan dan penafsiran Pancasila yang digunakan untuk kepentingan melanggengkan kekuasaan. Akibatnya, ketika terjadi pergantian rezim di era reformasi, muncullah demistifikasi dan dekonstruksi Pancasila yang dianggapnya sebagai simbol, sebagai ikon dan instrumen politik rezim sebelumnya. Pancasila ikut dipersalahkan karena dianggap menjadi ornamen sistem politik yang represif dan bersifat monolitik sehingga membekas sebagai trauma sejarah yang harus dilupakan.

Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tententu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintahan pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu. Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya. Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!

Para hadirin yang berbahagia,

Pada refleksi Pancasila 1 Juni 2011 saat ini, saya ingin menggarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya kita melakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang kita hadapi semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik.

Oleh karena Pancasila tak terkait dengan sebuah era pemerintahan, termasuk Orde Lama, Orde Baru dan orde manapun, maka Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reformasi dan demokratisasi di segala bidang akan menemukan arah yang tepat manakala kita menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara yang penuh toleransi di tengah keberagaman bangsa yang majemuk ini. Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum.

Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu menyegarkan kembali pemahaman kita terhadap Pancasila dan dalam waktu yang bersamaan, kita melepaskan Pancasila dari stigma lama yang penuh mistis bahwa Pancasila itu sakti, keramat dan sakral, yang justru membuatnya teraleinasi dari keseharian hidup warga dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai sebuah tata nilai luhur (noble values), Pancasila perlu diaktualisasikan dalam tataran praksis yang lebih ‘membumi’ sehingga mudah diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Para hadirin yang berbahagia,

Sebagai ilustrasi misalnya, kalau sila kelima Pancasila mengamanatkan terpenuhinya “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, bagaimana implementasinya pada kehidupan ekonomi yang sudah menggobal sekarang ini?

Kita tahu bahwa fenomena globalisasi mempunyai berbagai bentuk, tergantung pada pandangan dan sikap suatu Negara dalam merespon fenomena tersebut. Salah satu manifestasi globalisasi dalam bidang ekonomi, misalnya, adalah pengalihan kekayaan alam suatu Negara ke Negara lain, yang setelah diolah dengan nilai tambah yang tinggi, kemudian menjual produk-produk ke Negara asal, sedemikian rupa sehingga rakyat harus “membeli jam kerja” bangsa lain. Ini adalah penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism, atau dalam pengertian sejarah kita, suatu “VOC (Verenigte Oostindische Companie) dengan baju baru”.

Implementasi sila ke-5 untuk menghadapi globalisasi dalam makna neo-colnialism atau “VOC-baju baru” itu adalah bagaimana kita memperhatikan dan memperjuangkan “jam kerja” bagi rakyat Indonesia sendiri, dengan cara meningkatkan kesempatan kerja melalui berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Sejalan dengan usaha meningkatkan “Neraca Jam Kerja” tersebut, kita juga harus mampu meningkatkan “nilai tambah” berbagai produk kita agar menjadi lebih tinggi dari “biaya tambah”; dengan ungkapan lain, “value added” harus lebih besar dari “added cost”. Hal itu dapat dicapai dengan peningkatan produktivitas dan kualitas sumberdaya manusia dengan mengembangkan, menerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam forum yang terhormat ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para tokoh dan cendekiawan di kampus-kampus serta di lembaga-lembaga kajian lain untuk secara serius merumuskan implementasi nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam lima silanya dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dalam konteks masa kini dan masa depan. Yang juga tidak kalah penting adalah peran para penyelenggara Negara dan pemerintahan untuk secara cerdas dan konsekuen serta konsisten menjabarkan implementasi nilai-nilai Pancasila tersebut dalam berbagai kebijakan yang dirumuskan dan program yang dilaksanakan. Hanya dengan cara demikian sajalah, Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai pandangan hidup akan dapat ‘diaktualisasikan’ lagi dalam kehidupan kita.

Memang, reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Para hadirin yang saya hormati,

Oleh karena itu saya menyambut gembira upaya Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang akhir-akhir ini gencar menyosialisasikan kembali empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding fathers kita di masa lalu. Akan tetapi, karena jaman terus berubah yang kadang berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka menyegarkan kembali empat pilar tersebut, sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.

Marilah kita jadikan momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu melalui aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai weltanschauung, yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, saya yakin bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Saya yakin, meskipun kita berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Melalui gerakan nasional reaktualisasi nilai-nilai Pancasila, bukan saja akan menghidupkan kembali memori publik tentang dasar negaranya tetapi juga akan menjadi inspirasi bagi para penyelenggara negara di tingkat pusat sampai di daerah dalam menjalankan roda pemerintahan yang telah diamanahkan rakyat melalui proses pemilihan langsung yang demokratis. Saya percaya, demokratisasi yang saat ini sedang bergulir dan proses reformasi di berbagai bidang yang sedang berlangsung akan lebih terarah manakala nilai-nilai Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu ‘alaikum wr wb.

BJ. Habibie

Citra Politisi Muda


Belakangan ini yang namanya Survei sudah mulai dikritisi.

Misalnya hasil Survei oleh LSI tentang Kiprah Politisi Muda, yang memberikan informasi bahwa Politisi Muda sudah tidak dipercaya oleh Publik.

Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, yakin hasil survey Lingkaran Survey Indonesia (LSI) tidak bisa merusak citra politisi muda. Sekalipun di dalam laporan hasil survey tersebut dinyatakan banyak politisi muda yang tersangkut kasus hukum.

Anas bersama Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, Muhammad Nazaruddin, dan Muhaimin Iskandar memang dijadikan contoh dalam survey terkait harapan masyarakat terhadap politisi muda. Hasilnya, masyarakat kecewa karena banyak politisi muda tersangkut kasus hukum.

“Saya yakin citra politisi tidak bisa dirusak oleh survei. Silahkan saja setiap bulan bikin survei tidak apa-apa,” ujar Anas kepada wartawan di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa (1/11/2011).

Apa yang disampaikan oleh saudara Anas ini benar adanya, tetapi seandainya hasil Survei menyatakan sebagaimana yang diharapkan, maka bahasa si Anas tentu berbeda lah. Hal yang wajar.

Yang tidak wajar adalah bila masih saja ada orang-orang yang mengidolakannya untuk maju ke Bursa lebih lanjut, tidak kapokkah negeri ini atas kiprah orang – orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Benar adanya bahwa mereka saat ini tidak terbukti, tetapi semuanya tahu hal ini karena dikehendaki adanya, alias ada yang melindunginya.

So, mengapa kita yang masih senang dengan kemajuan negeri dan kemaslahatan masyarakat negeri harus memilihnya ..?

 

Salam,

Nazaruddin akan sama saja dengan Susno


Kasus Nazaruddin sangat menyita perhatian publik negeri. Apalagi setelah pelariannya ( dilarikan ) selama 3 ( tiga ) bulan akhirnya dia telah dijemput oleh team pencari untuk kembali ke Indonesia.

Awal berita sebelumnya bahwa si Nazaruddin setibanya di tanah air akan ditahan di KPK. Tetapi hal ini tidak terjadi adanya. Alasan yang ada karena tidak ada ruangan untuk tahanan di gedung KPK.

Mengapa hal ini disampaikan setelah kedatangan yang bersangkutan ….?

Hanya karena hal inilah maka secara naif saya katakan bahwa kasus si Nazaruddin akan terjadi sebagaimana kasus Susnoduadji. Dimana sebelum ditangkap , saat itu si Susno hampir selalu diberitakan di media massa tentang pernyataan kontroversialnya, tetapi setelah berada di tahanan bagai ditelan bumi.

Saya yakin sekali kasus ini akan senyap dan kalaupun disidangkan maka pernyataan-pernyataan kontroversialnya akan tak muncul lagi. Dan bahkan kasusnyapun akan diulur-ulur sampai publik negeri bosan akan beritanya.

Bahkan yang ada nantinya si Nazaruddin sendiri yang akan memperoleh vonis hukumannya, sedangkan nama-nama yang dia sebut akan tetap berlenggang sebagaimana sebelum si Nazaruddin bernyanyi.

Wallahualam…

———————————
TEMPO Interaktif, Jakarta – Mengapa akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi menitipkan Muhammad Nazaruddin di Rumah Tahanan Markas Komando Brigadir Mobil Kelapa Dua Depok? ” Karena kami tak punya rumah tahanan sendiri” kata Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi Johan Budi SP kepada wartawan, Sabtu 13 Agustus 2011. ” Kami pernah mengusulkan, tapi ditolak”

Johan mengatakan, penolakan yang dimaksud adalah dari Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan menolak pengadaan dan pengucuran dana bagi rumah tahanan Komisi. Karenanya, untuk Nazaruddin akhirnya dititipkan ke Rutan Kelapa Dua Depok.

Tak hanya di Depok, Komisi acap pula menitipkan tahanannya di Polda Metro Jaya, Rumah Tahanan Salemba dan Rumah Tahanan Cipinang.

Khusus untuk Nazaruddin, pemilihan Kelapa Dua, Johan menguraikan, salah satunya karena faktor pengamanan. Rumah Tahanan yang berada dibawah Brigadir Mobil ini memang memiliki pengamanan superketat ketimbang tiga penjara lainnya.

Untuk masuk Rumah Tahanan saja, izinnya sudah dari pintu gerbang. Jarak pintu gerbang ke rumah tahanan juga cukup jauh dan harus melalui sejumlah pos pemeriksaan.

Ketatnya penjagaan di Kelapa Dua Depok, ternyata tak membuat tahanan terkungkung di dalamnya. Tercatat nama Gayus Tambunan, Susno Duadji dan Williardi Wizard, penghuni Rumah Tahanan, tapi diketahui bisa keluar.

Maka penempatan Nazaruddin di Kelapa Dua, mendapat kritikan dari Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane. Neta menuturkan pengawasan di Kelapa Dua jauh dari jangkauan masyarakat dan pers. Sehingga jika terjadi pelanggaran, sulit dideteksi.

Peneliti Hukum Indonesia Corruption Watch Donal Fariz sepakat dengan Neta, bahwa banyak catatan negatif di Kelapa Dua Depok. Maka momentum, Nazaruddin sebaiknya jadi pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat untuk memberi anggaran rumah tahanan bagi KPK. “Ini harus jadi perhatian, rumah tahanan sangat penting untuk kasus-kasus besar,” ujar dia dalam kesempatan terpisah.

DIANING SARI