Pemimpin yang Mampu Menjadi Ka’bah


Beberapa hari yang lalu, Pemerintah dalam hal ini Mendagri melontarkan rencana perubahan UU tentang calon yang diperkenankan mencalonkan dirinya. Pasal yang akan ditambahkan pemerintah dalam revisi UU 32/2004 tentang Pemerintah Daerah itu adalah ” Para Calon Kepala Daerah dalam Pilkada wajib mempunyai pengalaman berorganisasi dan tidak boleh cacat moral.

Cacat moral yang dimaksudkan oleh Pemerintah ( Gamawan ) salah satunya adalah dikenal tidak pernah berbuat mesum atau berzina.

Belum juga diundangkan, Pro – Kontra sudah terjadi. Ada yang mengatakan bahwa pasal ini dibuat untuk mengganjal pencalonan si artis ” Belah Duren ‘” ( Jupe ) dan Maria Eva. Dan tentu saja hal ini dibantah oleh si Gamawan.

Tanpa mengaitkan dengan masalah pasal tersebut di atas, kalau kita mencoba bertanya pada diri sendiri pada saat akan melakukan pemilihan nanti, apakah sebenarnya diri ini berkenan untuk dipimpin oleh pemimpin yang memiliki cacat Moral ( Koruptor, Preman atau juga yang seperti disebutkan di atas )…?

Kitalah yang menentukan semua ini bisa terjadi, atau sebagaimana tulisan di bawah ini , dimana pemilihan dilakukan untuk memenuhi suasana transaksional dalam rangka memenuhi kebutuhan bersama..?

Wallahualam, semoga kita makin pandai dalam menentukan Pemimpin yang mampu menjadi ” Ka’bah ” sebagaimana hal yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Imam Suprayogo berikut ini :

Sebagaimana Ka’bah, Pemimpin Harus Dicintai dan Dikagumi
Oleh : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Sebagaimana tulisan yang lalu tentang Ka’bah dan kepemimpinan, maka tulisan kali ini saya masih ingin mengajak pembaca untuk memperhatikan bagaimana Ka’bah benar-benar dicintai oleh kaum muslimin. Mereka yang bertempat tinggal di berbagai negara yang jauh letaknya dari ka’bah, datang untuk melakukan ibadah baik umrah maupun haji. Soal berapa ongkos yang harus dikeluarkan, bagi mereka tidak dipersoalkan lagi, asalkan tersedia. Ini semua dilakukan karena kecintaan atau panggilan dari Allah yang dipercaya akan memberi sesuatu padanya.

Padahal sesuatu yang akan diterima dari hasil kunjungan untuk memenuhi panggilan itu juga baru bersifat abstrak. Janji berupa pahala atau berkah dari Allah atas kunjungan ke Baitullah itu akan diterima dalam bentuk yang tidak diketahui, baik di dunia maupun di akherat nanti. Akan tetapi, manusia sedemikian tinggi kecintaannya terhadap bangunan itu.

Bagi kaum muslimin yang datang baru pertama kali melihat ka’bah, karena perasaan harunya, hingga menangis atau meneteskan air mata. Apa yang dibelanjakan hingga mereka datang ke Baitullah ini, mereka tidak akan menghitung-hitungnya lagi. Semua dikeluarkan secara ikhlas demi kecintaan dan kekaguman pada baitullah itu.

Jika para pemimpin berhasil menumbuhkan kecintaan dan kekaguman para pengikut terhadapnya sedemikian kuat, maka kepemimpinan itu sesungguhnya sudah berhasil. Para pengikut akan melakukan apa saja yang disenangi oleh pemimpinnya. Hubungan pengikut dan pemimpin bukan lagi bersifat transaksional, melainkan terbangun atas dasar kecintaannya yang penuh. Pemimpin mencintai rakyat yang dipimpin, dan sebaliknya rakyat akan mencintai pemimpinnya sedemikian rupa.

Suasana saling mencintai itu akan melahirkan pengorbanan dari pihak-pihak yang terkait. Pemimpin akan sanggup memberikan apa saja yang ada padanya demi kepentingan rakyat. Demikian pula rakyatnya akan melakukan apa saja untuk memenuhi komando dan anjuran para pemimpinnya. Kiranya kepemimpinan nabi berjalan demikian. Para sahabat nabi dan umatnya bersedia melakukan apa saja untuk memenuhi perintah nabi, demi kebaikan dan kemuliaan yang bersangkutan.

Seorang pemimpin agar dicintai dan dikagumi oleh rakyat atau mereka yng dipimpinnya, harus memiliki kelebihan. Bentuk kelebihan itu bisa beraneka ragam, yaitu dari kejujurannya, kesanggupannya berbuat adil, kepintarannya, usaha-usahanya memakmurkan dan memajukan rakyat, integritasnya dan sebagainya. Pemimpin harus benar-benar bisa menempatkan apa yang dipunyai untuk kepentingan rakyat. Bukan sebaliknya, justru rakyat untuk kepentingan pemimpin. Jika kelebihan itu telah dimiliki dan berhasil dirasakan oleh rakyat atau pengikut, maka pemimpin akan dicintai bersama-sama.

Kepemimpinan modern seperti sekarang ini, dipenuhi oleh suasana transaksional dalam rangka memenuhi kebutuhan bersama. Seorang pemimpin menunaikan tugas-tugasnya lantaran akan mendapatkan imbalan dari rakyat melalui peraturan, undang-undang, surat keputusan yang dibuat. Demikian pula, rakyat melalui aturan yang ada membayar pajak sebagai kewajiban yang telah dibebankan kepadanya. Maka, yang terjadi adalah suasana transaksional itu.

Hubungan transaksional biasanya tidak didasari oleh suasana keikhlasan yang mendalam. Semua dijadikan pegangan atas dasar memenuhi ketentuan, peraturan, undang-undang dan sejenisnya. Jika hal itu dilanggar, maka risikonya adalah mendapatkan hukuman sebagaimana diatur dalam peraturan atau undang-undang pula. Maka hubungan itu sesungguhnya lebih bersifat esoterik –ikatan-ikatan luar, yang bisa dengan mudah dimanipulasi. Maka benar, dalam dunia birokrasi, apalagi bagi masyarakat berkembang penyimpangan birokrasi sudah sedemikian tampak dengan jelas. Upaya menghilangkannya sudah dirasakan sangat sulit, oleh karena penyakit itu sudah sedemikian meluas, yakni dijalankan oleh hampir semua pelaku birokrasi yang bersangkutan.

Persoalannya adalah bagaimana seorang pemimpin mampu membangun suasana, hingga dirinya dicintai oleh pengikut atau rakyatnya. Maka kuncinya adalah pemimpin tersebut harus berhasil menunjukkan kejujuran, adil, dan memiliki integritas yang tinggi terhadap lembaga yang dipimpinnya. Pemimpin yang dipandang adil dan jujur serta memiliki integritas tinggi akan mendapatkan simpatik dan akhirnya akan dicintai oleh pengikut atau rakyatnya.

Selanjutnya, jika pemimpin sudah benar-benar dicintai, maka keinginan dan petunjuknya akan diikuti. Mereka bukan bekerja atas pengawasan, peraturan dan undang-undang, melainkan didasari oleh perasaan cinta itu. Lebih darti itu perasaan cinta akan mampu melahirkan pengorbanan yang tidak terkira besarnya. Bahkan dalam sejarah kemanusiaan, tidak sedikit terjadi anak buah ikhlas mengorbankan apa saja yang dimiliki demi membela atau mengabdi pada pemimpinnya. Tetapi sebaliknya, tidak sedikit, anak buah yang melalukan tugas setengah hati, dan penuh manipulasi, oleh karena disebabkan telah terjadi loyalitas semu secara meluas.

Pemimpin sebagaimana ka’bah harus dicintai sepenuhnya oleh mereka yang dipimpinnya. Jika hal demikian berhasil dibangun maka tugas-tugas yang terkait dengan bidang yang dipimpinnya, akan bisa dijalankan dengan mudah. Tugas-tugas itu tidak akan selalu dikaitkan dengan anggaran. Sebab jumlah anggaran berapapun tidak akan mempengaruhi kualitas kinerjanya. Oleh sebab itu, perlu kiranya dikembangkan birokrasi berbasis cinta, dan bukannya seperti saat ini, sebatas birokrasi berbasis anggaran. Sebagai risikonya kemudian adalah muncul kejadian-kejadian yang bersifat manipulative dan koruptif hingga dampaknya penjara sebagaimana yang terjadi sekarang ini, semakin sesak dan yang menarik berisi para pejabat pemerintah yang melakukan birokrasi berbasis kinerja itu. Wallahu a’lam.
Jeddah, 7 Juli 2009

Semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi para pemilih dan Calon Pemimpin , khususnya yang akan berlangsung di Kutai Kartabegara, Samarinda, Paser, Bontang . Kutai Timur, Berau dan lainnya.

Salam,

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s