PKL Mode On


Hehehe, ternyata menata PKL di Samrinda emang berat, pada menyerah katanya nih…
Padahal kota lain bisa, selalu saja alasannya ” Klasik “.
Jangan asal gusur, mereka khan juga manusia.
Lha.., apa dulu yang digusur sebelum menjadi kawasan tepian seperti sekarang ini bukan manusia juga yang punya rasa ( kecewa ). Mantap bener alasannya.

Ada yang bilang, kalau cari alasan itu mah soal biasa. Yang nggak biasa ( baca = Bisa ) adalah membuat Tata Kota yang Bersih dan Nyaman buat semua warganya…
————————————————————————————————–
Berharap Pada Siapa ..?

PKL sepertinya ditakdirkan menjadi bagian tidak menyenangkan dari Samarinda. Meski saya membayangkan PKL tetap menghiasi kota ini, namun dengan wajah yang lebih cantik. Tapi menertibkan saja sulit, apalagi membuat membuat PKL makin cantik.

Pernyataan berbau pesimistis untuk upaya penertiban PKL sudah terdengar dari pejabat sekelas Wali Kota dan Wawali Samarinda. Alhasil Satpol PP pun seperti tak berdaya, karena dukungan moril memang tak maksimal diberikan. Padahal keduanya hampir 10 tahun memimpin kota ini. Itu artinya, selama 10 tahun memang tak ada upaya yang lebih nyata dalam menata tepian Sungai Mahakam menjadi ruang publik dambaan warga Samarinda.

Belakangan juga, pernyataan “menyerah” disampaikan Poltabes Samarinda. Diwakili Satlantas, program kanalisasi yang sempat digencarkan beberapa waktu lalu, terpaksa dihentikan.

Apa pasal? Rupanya PKL yang menguasai lajur kiri yang digunakan untuk motor, sulit diatur. Akhirnya, mau tak mau Satlantas memilih menghentikan dulu program kanalisasi.

Sampai kapan berhenti? Ini yang tampaknya sulit dijawab. Saya membayangkan, sebenarnya program kanalisasi itu hanya efektif berlaku empat jam. Yakni mulai pukul 16.00-20.00 Wita. Bahkan pada pukul 19.00 Wita, lalu lintas relatif aman. Setelah jam itu, PKL (kalau mau tutup mata) sudah bisa jualan lagi karena lalu lintas relatif normal. Tapi mau bagaimana lagi, Satlantas hanya bisa mengeluh betapa susahnya mengatur PKL.

Pernyataan lain juga keluar dari jajaran Dishub Samarinda. Kali ini seputar makelar kasus yang menaungi kalangan PKL. Sehingga meski Satpol PP rajin merazia, namun kembali jualan lagi. Inti dari semua persoalan itu, adalah ketegasan dan keseriusan. Tak ada yang melarang PKL mencari makan. Repotnya ketika urusan perut itu ternyata tak memperhatikan ribuan orang yang setiap harinya melintasi Jalan Slamet Riyadi dan berharap tak ada macet. Kalaupun macet semuanya bisa berlalu. Meski ujicoba kanalisasi memang belum maksimal.

Lalu harus bagaimana. Hanya Pasrah dong! Bagaimana lagi. Mau berharap pada siapa. Dishub yang jelas-jelas satu atap saja terpaksa bantuan Satpol PP untuk melancarkan lagi program kanalisasi. Padahal yang dimintai bantuan dijamin sulit mengatasi PKL. Mau minta bantuan polisi menindak juga tak mungkin. Mengharapkan pemimpin baru, masih November nanti. Itupun kalau pemimpin baru juga punya komitmen yang sama, menertibkan PKL dan menjadi tepian Sungai Mahakam sebagai ruang terbuka yang nyaman disinggahi. Sabar ya! (***)

( Sumber : Kaltim Post )

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s