EGP buat Politik Pencitraan,


Kalau team SBY mau mengangkat kasus tewasnya Dulmatin sebagai nilai plus pemerintahan SBY, maka aku katakan, EGP buat politik pencitraannya. Century harus tetap dilanjutkan untuk menegakkan kebenaran dan starting point pembangunan yang berkejujuran di negeri ini.

Dua bulan mendatang TDL akan naik sebesar 15 %, ACFTA telah berlaku tanpa pembinaan kesiapan Industri Kecil…? Impor produk pertanian yang tak pernah terhapuskan karena belum mampu Mandiri di negeri yang penuh karunia Sang Pencipta ini…, Hutang Luar Negeri ditambah untuk APBN,……….dan seterusnya…

Jadi, Dulmatin mau dijadikan alat mengangkat Citra SBY atau pun nggak , biarkan saja masyarakat yang menilainya ……………………..

Dulmatin Dan Politik Pencitraan ?

“Dulmatin : teroris yang paling dicari terbunuh”. Itulah isu paling hangat dalam beberapa hari terakhir, setelah hampir dua bulan kita diramaikan oleh kasus bail out dana Bank Century senilai 6,7 Trilyun. Teroris kembali menghiasi berbagai media massa, baik cetak atau elektronik. Isu nya pun lintas pulau. Dari digrebeg nya tempat pengkaderan teroris di Aceh, hingga ke penangkapan dan terbunuh nya Dulmatin sebagai teroris yang paling dicari di dunia. Bahkan Presiden Sby yang tengah berada di Australia pun berani angkat bicara tentang tewas nya Dulmatin. Pernyataan Presiden Sby ini, tentu saja berdasar laporan Kapolri atas hasil test DNA yang telah dilakukan. Hasil test jelas menyatakan bahwa sesuai dengan sampel yang diambil dari teroris yang terbunuh lalu dicocokan dengan DNA keluarga nya, maka nyata sekali ke dua sampel yang dianalisis itu, memiliki kesamaan dan kecocokan.

Kita percaya bahwa dengan tewas nya Dulmatin, tentu saja hal ini merupakan keberhasilan Polri yang perlu diberi acungan jempol. Pengejaran yang cukup lama, akhirnya membuahkan hasil. Kisah sukses ini, tentu bukan semata-mata karena Presiden AS Obama akan berkunjung ke Indonesia, atau karena Presiden Sby sedang tidak berada di tanah air, tapi keberhasilan menewaskan Dulmatin adalah sebuah rangkaian proses panjang, atas kinerja Polri yang cukup membanggakan. Salut dan tabik buat keluarga besar Polri.

Ada kesan, dalam beberapa tahun belakangan ini, soal muncul nya isu teroris, memang sering dikaitkan dengan masalah pencitraan Sby. Pada saat citra atau popularitas Sby melorot, maka kisah sukses Polri menangkap teroris selalu menjadi jawaban nya. Isu teroris kembali muncul menghiasi media massa, dikarenakan citra Sby menurun, karena ada nya kasus Bank Century. Apakah benar begitu ? Ya, kita berharap kesan ini salah. Mesti nya tidak harus ada korelasi yang positip antara citra Sby dengan tertangkap atau tewas nya teroris. Citra Sby ya citra Sby. Soal teroris, ya teroris. Mencuat nya isu teroris, bukan sebuah siasat untuk mendongkrak popularitas Sby. Kita yakin, baik ketika citra Sby sedang baik atau sedang buruk di mata rakyat, maka isu teroris dapat saja muncul dengan sendiri nya. Artinya, akan terasa cukup menggelikan jika tewas nya Dulmatin hanya sebagai cara untuk mendongkrak pencitraan Sby semata. Pasti tidak begitu ?

Kemauan untuk membangun citra bagi seorang Sby, sungguh banyak cara dan langkah nya. Karya monumental yang membuat rakyat simpati kepada Sby adalah ketika diluncurkan nya program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Masyarakat rupa nya sangat berterima-kasih kepada Sby yang sudah melaksanakan program ini. Karena BLT itulah, maka banyak anak bangsa yang dapat merasakan nikmat nya jalan-jalan naik motor kreditan di sore hari. Dengan uang BLT banyak rakyat yang memanfaatkan nya guna membayar uang muka sebuah motor. Mereka rupa nya tidak berpikir jauh ke depan dari mana akan membayar cicilan bulanan nya ? Begitu pun dengan perilaku para sales yang seolah-olah tidak bersikap dengan obyektif. Mereka hanya berpikir bagaimana menjual motor sebanyak-banyak nya.

Berpihak kepada kaum miskin, boleh jadi merupakan pilihan yang cukup cerdas dalam meningkatkan pencitraan. Keberpihakan kepada pertumbuhan, perluasan kesempatan kerja dan memerangi kemiskinan, sebagaimana yang dikemukakan Sby di awal kepemimpinan 5 tahun pertama nya, jelas merupakan perilaku yang sangat simpatik dan menawan. Apalagi jika dikumandangkan nya istilah “pro rakyat”. Kita berpikir langkah semacam ini nampak lebih elegan ketimbang langkah lain nya yang terkesan kurang elok. Kita berharap muncul nya isu teroris, bukanlah bagian dari upaya kelompok tertentu yang ingin mendongkrak citra Sby itu sendiri. Kalau saja Sby semakin dekat rakyat dan melahirkan program-program yang menyentuh keinginan rakyat, maka jangan sekali-kali berpikir bahwa citra Sby bakalan turun. Kita yakin dengan kesantunan berpolitik, tentu nya secara sukarela rakyat pun akan tetap bersimpati kepada Sby. Hanya rasa simpati ini bisa berubah menjadi antipati, jika Sby memang berjalan di luar dari apa-apa yang selama ini diinginkan oleh rakyat. Citra akan terdongkrak jika Sby benar-benar mampu mendengar “suara rakyat” nya sendiri.

Salam,

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s