Atasi Balapan Liar, Tingkatkan Budaya Disiplin


Solusi Minimalkan Balapan Liar Di Samarinda

Balapan liar yang dilakukan oleh pelajar di Samarinda sudah cukup meresahkan masyarakat pengguna jalan, khususnya wilayah JalanBasuki Rahmat dan Kusuma Bangsa. Karena itu, hampir setiap malam libur, atau pada malam minggu hingga minggu dini hari dilakukan razia oleh Polisi Samarinda.

Pernah terjadi seorang bapak yangsedang mengendarai sepeda motor di jalan Basuki Rahmat tertabrak oleh mereka sehingga mengalami cidera, ada juga kejadian dimana sang pembalap liar menabrak trotoar jalan sehingga terpental dan kepalanya menumbuk tempat bunga penghias jalan.

Dari fakta yang ada, para pembalap liar ini dilakukan oleh para pelajar tingkat SLTP dan SLTA.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa SIM ( Surat Ijin Mengemudi ) yang dikeluarkan oleh Kepolisian salah satu persyaratannya adalah harus berusia minimal 17 tahun. Jadi secara aturan, para pembalap liar ini sudah melanggar aturan yang ada, mengapa….?

Mari kita instrospeksi tentang problema balapan liar ini pada diri kita masing-masing, yaitu : para orang tua, Kepala dan Guru Sekolah para pelajar ini. Selama kita hanya menganggap bahwa hal ini hanyalah hal biasa saja atau kesalahan kecil yang bisa dimaafkan, maka jangan harap benang ini bisa kita luruskan bersama-sama.

Mari kita lihat, adakah sekolah yang melarang dan menindak siswanya yang belum memenuhi persyaratan untuk mengemudikan sepeda motor ? Hampir bisa kita lihat banyak siswa yang membawa sepeda motor ke halaman sekolah mereka masing-masing tanpa rasa bersalah.

Begitu juga kita sebagai orang tua yang bangga karena anaknya sudah bisa mengendarai sepeda motor dan diijinkan untuk memakainya ke sekolah mereka masing-masing, padahal secara aturan kita tahu bahwa hal tersebut melanggar peraturan memakai kendaraan di jalan raya.

Dari fenomena ini, maka sebenarnya kita lah yang membiarkan mereka semua melakukan hal tersebut. Padahal sikap mental disiplin perlu kita tanamkan pada mereka, begitu juga budaya melanggar aturan kita sudah tanamkan sejak dini. Bisa kita bayangkan kalau budaya disiplin dan taat aturan tidak kita tanamkan kepada mereka bagaimana mereka dalam mengarungi bahtera kehidupan kelak apalagi yang mengabdi menjadi pemimpin atau anggota dewan….?

Tatanan – tatanan ini kita jugalah yang menciptakan.

Di Samarinda, peran kepolisian ( Lantas ) sangat besar sekali untuk bisa mendidik masyarakat Samarinda menjadi lebih disiplin dan taat aturan sehingga masyarakat kita menjadi masyarakat yang berkualitas dari sisi mental dan budaya.

Pada saat ini, bisa kita lihat bagaimana para pelajar dengan tenang dan nyamannya mengendarai sepeda motor di depan Polisi tanpa takut ditilang karena tidak memiliki SIM. Dan bisa kita lihat pada jalan-jalan satu arah banyak sekali sepeda motor yang dengan tenangnya melawan arus tanpa merasa bersalah karena tidak pernah ditilang oleh para Polisi kita.

Dari gambaran-gambaran di atas, maka untuk memberantas balapan liar di Samarinda hanya perlu dua tindakan saja yaitu :

1. Tangkap Para Pelajar yang berseragam Putih – Biru karena usia mereka pasti sudah tidak memenuhi syarat.

2. Razia para pengendara sepeda motor dengan seragam Putih dan Abu-abu untuk mengetahui apakah mereka memang layak mengendarai.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s