Signal – signal Itu……


resize-of-back-ground-batu-1“ Signal – signal Itu “

Akibat krisis ekonomi global, industri kayu di Kaltim harus menurunkan produksi hingga 60 persen agar bias terus bertahan. Namun yang lebih mengkhawatirkan, pemutusan hubungan kerja ( PHK ) besar-besaran bakal terjadi di Kaltim. Hal ini yang diungkapkan Wakil Presiden Direktur PT. Sumalindo Lestari Jaya, David kepada Kaltim Post beberapa waktu lalu.

“ Kurang lebih 4 bulan ini kami menurunkan volume produksi kami,” ungkapnya. Dia mengatakan, selama ini Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa menjadi tujuan utama ekspor kayu olahan dari Kaltim. Begitu ada krisis global katanya, perusahaannya menurunkan volume produksi hingga 40 persen dibandingkan sebelum krisis.

Secara umum, dikatakan David, di Indonesia hanya tersisa sekitar 20 industri pengolahan kayu yang masih bertahan, dengan rata-rata 5000 pekerja tiap perusahaan. Sementara di Kaltim hanya tersisa 8 Industri Perkayuan.

Penurunan produksi juga berpengaruh pada para pekerja. David mengatakan, pada perusahaan yang dikelolanya, saat ini hanya terdapat 3.400 karyawan tetap dan sekitar 800 adalah karyawan kontrak. Karena itulah, Sumalindo mengambil kebijakan merumahkan karyawannya sejak beberapa bulan lalu menunggu stabilnya permintaan kayu olahan.

“ Sekarang perusahaan hanya mampu berproduksi 30 sampai 50 persen dari kapasitas mesin terpasang. Ini jelas salah satu indicator melemahnya kemampuan Industri Kayu. Bukan hanya di Kaltim, di seluruh Indonesia juga seperti itu,” tutur David.

Lebih jauh, permasalahan yang mengancam industri kayu juga dari menurunnya volume ketersediaan bahan baku yang selama ini masih mengandalkan kayu alam. Dari kurang lebih 117.000 ha luas areal Hutan Tanaman Industri ( HTI ) yang dimiliki Sumalindo, hanya 80 persen lahan yang bisa diproduksi. Karena ada ketentuan yang mengharuskan adanya hutan konservasi.

Sementara izin untuk pengelolaan hutan alam yang mencapai 804.000 ha, hanya 60 ha persen yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung produksi. Karena sisanya ada yang merupakan kawasan konservasi dan terjadinya tumpang tindih izin pengelolaan. Selain itu juga permasalahan jauhnya jangkauan potensi kayu.

“ Bukan hanya dari luar, kondisi ketersediaan bahan baku dan lambatnya pengiriman karena jauhnya jarak jangkau, membuat kelancaran produksi terhambat,”ucap David.

Meski demikian, David masih memiliki keyakinan Industri Kayu akan kembali mengalami tren positif. Meski jangka waktunya belum bisa diprediksi, namun upaya ke arah tersebut sudah terlihat. Pemerintah yang gencar melakukan pemberantasan Illegal Loging dinilainya mengurangi ancaman ketersediaan kayu. Meski demikian, ia menilai lambannya proses pemberian izin dari pemerintah, sering menjadi penghambat produksi.

“ Kami sekarang dituntut lebih cerdas menyikapi kondisi yang ada. Permasalahan internal seperti rasionalisasi gaji atau PHK karyawan sudah menjadi pilihan. Tapi dari luar , ancaman itu juga tidak bisa dimungkiri turut memberikan andil. Harapan kami, pemerintah bisa lebih memberikan kemudahan kami menjalankan usaha. Saya piker itu akan memberikan angina segar perusahaan perkayuan di Indonesia bertahan di masa krisis,” tuturnya.

( Sumber : Kaltim Post, 23 Maret 2009, Ribuan Karyawan Terancam PHK )

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s