Adab I’Tikaf


me-non-kopiah2Adab I’Tikaf

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai ( datang ) malam, ( tetapi ) janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di Masjid, itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia supaya mereka bertakwa, “ QS. Al-Baqarah ( 2 ) : 187.

Pengertian

Yang disebut I’Tikaf yaitu berdiam / tinggal di atas sesuatu, dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di Masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai Mu’takif dan Akif.

Kapan :

Beri’tikaf bisa dilakukan kapan saja . Namun Rasulullah Saw. Sangat menganjurkan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Tujuan :

Menurut Ibnu Qayyim, ‘ Agar hati beri’tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat denganNya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesame makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah.

Syarat dan Rukun I’tikaf

Syarat I’tikaf :

  1. Muslim,
  2. Berakal,
  3. Suci dari Janabah, haid dan nifas.

Rukun I’tikaf :

  1. Niat yang Ikhlas,
  2. Berdiam di Masjid.

Amalan dalam I’tikaf

Dianjurkan setiap yang melakukan I’tikaf agar memperbanyak ibadah dan taqarub kepada Allah. Misalnya, Shalat Sunnah, Tilawah, Bertasbih, Tahmid, dan Tahlil. Beristighfar yang banyak, bershalawat kepada Rasulullah Saw., dan berdoa.

Orang yang beri’tikaf bukan berarti tidak boleh melakukan aktifitas keduniaan. Rasulullah Saw., pernah keluar dari tempat I’tikaf karena mengantar istrinya, Shafiyah, ke suatu tempat. Orang yang beri’tikaf juga boleh keluar masjid untuk keperluan yang diperlukan seperti buang hajat, makan, minum, dan semua kegiatan yang tidak mungkin dilakukan di dalam Masjid. Tapi setelah selesai urusan itu, segera kembali ke Masjid.

Yang Membatalkan I’tikaf.

I’tikaf dikatakan batal jika orang yang beri’tikaf meninggalkan Masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar. Sebab dia telah mengabaikan satu rukun, yaitu berdiam di masjid. I’tikaf juga batal kalau yang melakukannya berjima’ dengan istrinya.

I’tikaf bagi Muslimah

I’tikaf disunnahkan bagi pria, begitu juga wanita. Tetapi bagi wanita ada syarat tambahan selain syarat-syarat secara umum tersebut di atas, yaitu :

Harus mendapat Ijin Suami atau Orang Tua,

Dilakukan di Masjid atau tempat shalat di rumahnya.

Sumber : Bahrul Ulum, Lembar Jum’at Al – Qalam No. 41 / Tahun XX

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s