Golkar dan Prabowolah Kompetitor SBY


Laga ke dua Pilpres Mendatang : “ SBY Versus Mega “ ….?

PDIP selalu sebutkan bahwa pilpres mendatang hanya untuk SBY dan Mega. Dan wacana ini – pun menggema hampir di seantero bumi Indonesia. Kalau ada calon-calon lain ibarat letupan-letupan kecil saja. Yang terlihat hanya dua tokoh ini. Mengapa…? Padahal isu-isu yang disampaikan oleh keduanya hanya datar-datar saja, yaitu pengulangan materi-materi lama .

Pada Rakernas yang digadang-gadang akan ada penentuan cawapres yang mendampingi Mega, hasilnya nihil. Malahan bu Mega bicara susah untuk mencari cawapresnya karena semua yang ada ingin menjadi capres.

Dari sisi ini, bisa dikatakan bahwa PDIP sangat berkeyakinan akan memperoleh banyak kursi di pemilu legislative mendatang sehingga capres dari PDIP adalah harga mutlak. Seandainya di pemilu legislative, PDIP memang memperoleh banyak kursi dan Mega maju menjadi Capres pada Pilpres mendatang, maka PDIP telah salah memilih Mega untuk bertarung kembali. Masyarakat pemilih tidak bisa didikte oleh partai pada saat pemilihan presiden medatang, karena memori lama sudah berbicara bahwa Mega bukanlah sosok yang lebih baik dari SBY, baik pada saat pilpres maupun pada saat berkuasa.

Wajarlah bila kandidat yang akan digandeng akan berhitung tentang hal ini, sehingga Rakernas PDIP hanya datar saja. Dan ini membuat peluang SBY memenangkan pertarungan pada Pilpres mendatang jadi makin terbuka lebar.

Partai mana yang sebenarnya pantas menjadi competitor SBY pada Pilpres mendatang..? Tak lain adalah GOLKAR. Sayang sampai dengan saat ini Golkar masih kelimpungan mengambil langkah dalam penentuan Capresnya karena banyak kadernya yang memiliki nilai plus dimata masyarakat.

Selain Golkar, yang bisa menjadi competitor serius SBY adalah Prabowo. Sayang, anak Begawan ekonom Indonesia ini hampir mirip dengan Mega yang tidak mau merangkul partai lain untuk ikut mensukseskan dirinya maju pada Pilpres mendatang. Beliau lebih sibuk mengkampanyekan Partainya saja. Padahal GERINDRA adalah partai baru, bagaimana mau maju kalau sudah kalah pada Pemilu legislative mendatang…?

Jadi, pada pilpres mendatang kita hanya akan disuguhi pertarungan ulang dimana animo pemilih akan sama saja dengan pilkada yaitu hampir 50 % Golput. Dan wajarlah MUI mengeluarkan fatwa haram, mungkin mereka lebih tahu bahwa Pilpres mendatang Golput adalah angka yang membahayakan bagi proses demokrasi di Indonesia.

Semoga pertarungan ini tidak terulang….

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s