Gila, Indonesia akan ijinkan Ekspor Log


resize-of-photoku-pakai-kopiah1 “ Ekspor Log “ untuk Atasi Krisis Perkayuan

Sebelum era krisis global melanda Indonesia, sector perkayuan sudah mengalami krisis lebih awal. Krisis dimulai dari turunnya jatah tebangan untuk sector HPH sehingga banyak HPH yang menutup perusahaan dan mem-PHK karyawannya.

Akibat dari banyaknya HPH yang tutup maka di Indonesia mulai berguguran industri Plywood-nya, dari ratusan pabrik yang tersebar di seantero negeri kita pada awal tahun 2008 sudah sisa sekitar 20-an industri Plywood saja yang beroperasi. Dan sejak makin ketatnya pemberantasan Ilegal Loging, industri Sawmill-pun berguguran karena tidak memiliki RPBI yang jelas.

Dengan berkurangnya suplai log dari HPH dan mahalnya harga log pada saat tersebut, beberapa industri Plywood yang telah siap ( dalam artian memiliki mesin yang up to date ) mampu bertahan karena mereka mampu mengolah log dengan diameter kecil.

Komponen biaya utama industri perkayuan yang sangat berpengaruh adalah log. Dengan recovery factor sekitar 50 % maka berarti cost dari log saja sudah dua kali lipat dari harga beli log. Karena itu, industri yang mampu mengolah log dengan recovery lebih tinggi akan mampu saving cost dari sisi ini.

Memperhatikan data ekspor produk perkayuan dari Indonesia yang makin lama makin turun, tentunya ada sesuatu yang aneh terjadi di sector ini. Negara competitor kita seperti Malaysia maupun China ternyata mampu menjual harga plywood dibawah harga kita. Penyebab utamanya pasti karena mereka mampu saving di log cost – nya.

Dengan buyer yang sama dan dengan spesifikasi yang sama untuk produk yang dijual mengapa mereka bisa lebih murah….?
Apakah karena teknologi mereka lebih baik dari kita sehingga mereka mampu membuat recovery factornya lebih tinggi…?

Masalah teknologi pengolahannya, di negeri kita tentunya tidak terlalu berbeda pada penggunaan mesin-mesin utamanya. Jadi, dari factor teknologi bisa dipastikan bahwa pengaruhnya terhadap reduce / saving cost-nya kurang lebih saja.

Lalu apa yang menyebabkan mereka mampu menekan log cost…? Tidak ada kata lain, pasti mereka memperoleh log dengan harga lebih murah. Baik yang dibeli dari pencuri-pencuri kayu dalam negeri maupun dengan membiayai langsung penduduk pribumi untuk mengambil kayu – kayu dari area-area yang tidak bertuan.

Hal lain adalah pemanfaatan IPK dari hutan-hutan di Kalimantan yang akan dikonversi menjadi kebun sawit, karet atau yang lainnya.

Seandainya penangkapan Ilegal Logging lebih intensif dan tidak pandang bulu tentunya kayu keluar dari wilayah Indonesia dipastikan akan minim sekali. Pengamanan aspek ini di wilayah Kaltim sepertinya lebih baik walaupun angkanya masih ala kadarnya saja, yang mungkin hanya untuk formalitas agar terkesan pemerintah serius menghadapi kegiatan ini.

Penyebab utama mahalnya harga Log adalah karena biaya social maupun pungutan-pungutan resmi yang nilainya cukup significant untuk dimasukkan sebagai “ Cost Production “. Apalagi kalau dibebankan pungutan-pungutan yang tidak resmi maka akibatnya harga log secara CNF akan menjadi lebih tinggi lagi.

Di era krisis seperti saat ini, ada isu bahwa negeri kita akan melakukan kebijakan lama yaitu akan memperkenankan adanya ekspor log dan sawn timber dengan tujuan menyelamatkan industri perkayuan. Mengapa ?

Alangkah baiknya kalau pemerintah lebih menekankan pada pemangkasan pungutan-pungutan yang membebani biaya log tersebut seperti : Ijin operasi alat, Ijin RKT, Pemeriksaan, DR dan PSDH serta lain-lainnya baik yang resmi maupun tidak . Tahun 2009, SBY menjanjikan kenaikan gaji PNS sehingga kehidupan para petugas tentunya masih lebih layak dibandingkan dengan karyawan / buruh yang bekerja di sektor perkayuan

Kalau kita kembali kepada kebijakan lama maka yang kita lakukan adalah :
1. Hanya menghidupkan HPH saja, sedangkan industrinya akan stop Produksi .
2. Pencurian kayu akan lebih marak lagi,
3. Lebih banyak lagi karyawan yang dirumahkan atau di-PHK.
4. Meningkatkan jumlah tenaga “ Kuli “ di bumi ini.
5. Tidak menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar karena pengelolaan HPH hanya terjadi di area jauh dari masyarakat.

Semoga issu tersebut hanyalah sekedar kabar angina saja. Semoga.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s