Dampak Krisis Ekonomi Global


resize-of-back-ground-batu-11Dampak Krisis Ekonomi Global
Terhadap Sektor Riil
By : Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Des 2008

Back Ground :
Krisis Sub Prime Mortgages di Amerika :
1. Nasabah dengan catatan kredit yang kurang baik ( subprime borrower ) harus membayar bunga KPR sekurangnya 2 % di atas bunga KPR pada nasabah dengan catatan kredit baik ( crime borrower ),
2. Mortgages lender banyak menyalurkan KPR ke subprime borrower dengan no-doc loans, yang tidak memerlukan bukti dokumen penghasilan atau tabungan,
3. Bank Komersiil membeli “ subprime loans “. Bank kemudian melakukan pooling terhadap loan tersebut dan menjualnya ke perusahaan sekuritas di Wall Street atau CDO Manager.
4. CDO Manager mengemas mortgage loans ke dalam bentuk mortgage – back securities ( MBS ) atau collateralized debt obligation ( CDO ),
5. CDO bernegosiasi dengan perusahaan credit rating untuk menentukan kualitas kredit MBS / CDO tersebut. Membagi CDO kedalam tranches untuk memenuhi rating yang ditentukan untuk masing-masing porsi.
6. CDOs termasuk kemasan bonds dan securities yang beragun mortgages dan home equity loans,
7. Investor seperti : Hedge Fund, Bank, Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun menyukuai CDOs karena menawarkan imbal hasil tinggi dengan rating yang sama dengan corporate bond.

Kesimpulan Hasil Survey dan Liaison

• Dampak krisis ekonomi global terhadap kondisi usaha dan ketenagakerjaan mulai terlihat pada triwulan IV-2008 dan diperkirakan semakin mendalam pada Triwulan I-2009.
• Meskipun telah terjadi penurunan pada harga komoditi di pasar dunia, dampaknya belum sepenuhnya ditransmisikan pada harga di dalam negeri.
• Meskipun terjadi peningkatan biaya Produksi karena pelemahan nilai tukar, pengusaha lebih memilih mempertahankan harga jual.

A. Kondisi Usaha

Berdasarkan hasil Liaison Triwulan IV-2008 diperoleh gambaran sbb :

Melemahnya daya beli masyarakat ( konsumsi ) dan pasar ekspor dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun 2008 semakin mengalami tekanan. Secara umum contact Liaison berpendapat bahwa dampak krisis global yang terjadi saat ini akan terlihat pada triwulan I 2009.
• Memasuki Triwulan IV-2008 kondisi dunia usaha mulai mengkhawatirkan meski sepanjang tahun 2008 masih lebih baik dibandingkan tahun 2007.
• Terdapat tendensi berkurangnya demand terhadap produk ekspor Indonesia yang diakibatkan semakin melemahnya permintaan negara mitra dagang dan fluktuasi nilai tukar.
• Krisis financial global mulai berdampak terhadap permintaan produk-produk Indonesia khususnya hasil olahan kayu, pengalengan ikan, tekstil serta bahan-bahan kimia, meski terdapat kegiatan usaha yang menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Indikasi penurunan permintaan tersebut yaitu adanya pembatalan kontrak maupun peninjauan kembali kontrak yang telah disepakati. Beberapa factor penyebab antara lain : melemahnya permintaan negara mitra dagang dan fluktuasi nilai tukar.

Berdasarkan hasil SKSR diperoleh gambaran mengenai perkiraan kondisi tahun 2009 sebagai berikut :

Penurunan kegiatan usaha dan kapasitas Produksi dikhawatirkan akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009.
• Kondisi Usaha : Mengalami Konstraksi ; Indikasi memburuknya kondisi usaha pada akhir tahun 2008 diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2009. Hal ini tercermin dari nilai Saldo Bersih ( SB ) sebesar -16,25 % yang berarti pengusaha merasa pesimis terhadap kondisi usaha pada tahun 2009. Secara rata-rata kegiatan usaha pada 80 perusahaan tersebut diperkirakan akan mengalami konstraksi sebesar 6,24 % dibandingkan tahun sebelumnya. Khusus bagi perusahaan yang melakukan kegiatan ekspor, kegiatan usaha pada 2009 juga diperkirakan akan mengalami konstraksi dengan nilai SB sebesar – 20,75 %. Secara rata-rata nilai konstraksi tersebut sebesar 7,51 %.
• Kapasitas Produksi : Mengalami Penurunan ; Perkiraan menurunnya kegiatan usaha tersebut sejalan dengan perkiraan penurunan kapasitas utilisasi ( SB -14,89% ). Kapasitas utilisasi diperkirakan akan menurun 5,68% dari 76,43% di tahun 2008 menjadi 70,75% di tahun 2009.

B. Kondisi Keuangan

Berdasar hasil SKSR ( Survei Khusus Sektor Riil ) diperoleh gambaran sebagai berikut :

Melemahnya kondisi usaha dikhawatirkan akan mempengaruhi kemampuan pengembalian pinjaman kepada perbankan.
• Kondisi Keuangan : Suku bunga ideal rata-rata 12% ( range 9-16% ). Dari sebanyak 80 perusahaan, setengahnya memiliki pinjaman dari perbankan dalam negeri untuk menjalankan kegiatan usahanya. Adapun tingkat suku bunga pinjaman rupiah dari perbankan dalam negeri yang diperkirakan tidak mengganggu kondisi keuangan perusahaan berada pada rata-rata sebesar 12% dengan range 9 – 16%. Khusus untuk perusahaan yang memperkirakan kondisi usaha pada tahun 2009 akan mengalami konstraksi ( 50% dari total responden ), sebanyak 45% memiliki pinjaman dari perbankan dalam negeri.

Berdasarkan hasil Liaison diperoleh gambaran sebagai berikut :
Tingginya suku bunga perbankan dapat mengganggu kegiatan usaha.
• Dengan tingginya bunga kredit bank saat ini, dikhawatirkan kedepannya pembayaran kredit konsumsi masyarakat akan semakin sulit terutama untuk kredit kendaraan bermotor dan kredit konsumsi lainnya. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan meningkatkan NPL.
• Dampak cukup tingginya suku bunga dan kecenderungan meningkatnya proteksi dari negara importer merupakan kendala yang dihadapi oleh pelaku usaha di dalam negeri.
• Dari sisi pembiayaan, perbankan di luar negeri sangat selektif dalam menerbitkan Letter of Credit ( LC ). Di sisi lain, untuk pelaku usaha domestic, terkendala oleh suku bunga yang meningkat, meski untuk beberapa perusahaan PMA cenderung memperoleh sumber pembiayaan dengan suku bunga yang relative lebih murah dengan dukungan perusahaan induknya.

C. Tenaga Kerja

Dunia usaha masih memberikan gambaran yang beragam mengenai kondisi ketenagakerjaan pada tahun 2009. Melemahnya kondisi usaha dikhawatirkan akan menyebabkan pengurangan tenaga kerja pada tahun 2009.

Berdasarkan hasil Liaison diperoleh gambaran sebagai berikut :
• Beberapa contact Liaison memperkirakan akan terjadi pengurangan tenaga kerja pada tahun 2009 apabila tidak terdapat perbaikan kondisi usaha selama triwulan IV-2008. Contohnya pada industri barang galian bukan logam dan industri pengolahan.

Berdasarkan hasil SKSR diperoleh gambaran sebagai berikut :
• Tenaga Kerja : Relatif Tetap. Mayoritas responden ( 72,16% ) menyatakan pada tahun 2009 penggunaan tenaga kerja relative tetap dibandingkan tahun 2008. Sementara itu, persentase responden yang memperkirakan penggunaan tenaga kerja akan mengalami penurunan sama dengan yang memperkirakan peningkatan penggunaan tenaga kerja pada tahun 2009 yaitu sebesar 13,92%.

D. Nilai Tukar

Berdasarkan hasil SKSR diperoleh gambaran sebagai berikut :
58,20 % responden ( eksportir ) tidak merasa diuntungkan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD.
• Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD ditengah melemahnya mata uang negara lainnya ternyata tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan eksportir. Hal ini dinyatakan oleh 58,20% responden. Beberapa alasan yang dikemukakan oleh responden antara lain peningkatan harga bahan baku impor, penurunan volume penjualan dan permintaan pembeli untuk menurunkan harga. Sementara 23,88% responden menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD menguntungkan perusahaan, dan sisanya ( 20,62 % ) menyatakan tidak ada pengaruh.

Berdasarkan hasil Liaison diperoleh gambaran sebagai berikut :
• Fluktuasi nilai tukar turut memberikan tekanan terhadap kinerja produk ekspor Indonesia. Selain tekanan dari biaya Produksi, melemahnya hampir seluruh mata uang dunia terhadap USD ( termasuk rupiah ) berdampak juga pada daya beli masyarakat internasional terhadap produk ekspor Indonesia.

E. Harga Jual

Hasil Liaison Triwulan IV – 2008 :
• Secara umum contact Liaison masih mempertahankan harga jual walaupun biaya Produksi yang masih cukup tinggi sehubungan dengan pelemahan nilai tukar dengan tujuan mempertahankan volume penjualan produk. Hal ini berdampak semakin berkurangnya margin yang diperoleh dan bahkan dengan imbal hasil yang mendekati Break Event.

Inflasi : perkiraan inflasi Desember 2008 sebesar 0,3 – 0,5%
• Meskipun pada bulan Desember 2008 akan terjadi kenaikan harga akibat tingginya permintaan menjelang natal dan tahun baru serta perkiraan gangguan distribusi akibat banjir, namun karena tren kecenderungan harga 2008 menurun dibandingkan tahun 2007 serta adanya kebijakan Pemerintah menurunkan harga premium per tanggal 1 Desember 2008, maka inflasi pada bulan Desember 2008 diperkirakan sebesar 0,30% – 0,50% ( mtm ). Dengan demikian, inflasi pada tahun 2008 ( Januari – Desember ) diperkirakan berkisar antara 11,50% – 11,70% ( yoy ).

Kebijakan dalam Mengatasi Krisis

• Kerangka Kebijakan Secara Umum
• 10 Langkah Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Krisis
• Kebijakan Bank Indonesia Didalam Rangka Menjaga Kecukupan Likuiditas Valuta Asing dan Rupiah

Kerangka Kebijakan Secara Umum

• Krisis keuangan global dalam jangka panjang akan berimplikasi luas bagi peta keuangan dunia dan Indonesia.
• Diperlukan kebersamaan dan koordinasi yang erat untuk melewati badai dengan selamat dan menjadi lebih kuat.
• 3 elemen utama strategi dalam menghadapi gejolak :
1. Pengamanan stabilitas dan kelangsungan kinerja system keuangan monitoring yang intensif terhadap individual bank mengenai likuiditas, kualitas kredit serta ketersediaan likuiditas yang cukup untuk operasi normal.

2. Kombinasi kebijakan fiscal dan moneter ( Policy mix ) secara tepat untuk menopang pertumbuhan yang wajar.
– Stance kebijakan fiscal yang proaktif dalam mendukung pertumbuhan secara wajar dan realistis.
– Program-program jarring pengaman bagi masyarakat yang rentan terhadap gejolak ekonomi.
– Stance kebijakan moneter yang mampu menopang sasaran pertumbuhan, dengan tetap menjaga inflasi dan keamanan neraca pembayaran.

3. Langkah – langkah khusus untuk perbaikan iklim usaha, mendorong ekspor
Dan Investasi ( termasuk FDI ).

10 Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Krisis :

1. Devisa Valas seluruh BUMN di Bank dalam negeri ditaruh dalam satu Clearing House.
2. Mempercepat pembangunan infrastructure, terutama proyek-proyek yang sudah mendapat komitmen pembiayaan luar negeri ( bilateral maupun multilateral ).
3. Menginstruksikan BUMN tidak melakukan pemindahan dana dari Bank ke bank.
4. Melakukan stabilisasi pasar SUN, pemerintah bersama BI melakukan pembelian SUN di pasar sekunder.
5. Memanfaatkan bilateral swap arrangement dari dana Asia ( terutama dari Jepang, Cina dan Korea Selatan ).
6. Menjaga kelangsungan ekspor dengan memberikan garansi terhadap resiko pembayaran.
7. Menurunkan pungutan ekspor CPO ( dari 7,5 % menjadi 0 % )..
8. Menjaga kesinambungan fiscal 2009 hingga dapat dilakukan perubahan budget pemerintah.
9. Mencegah importer illegal, dengan menetapkan importer tertentu untuk garmen, elektronik, makanan, mainan anak dan sepatu.
10. Meningkatkan pengawasan barang beredar.

Kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga kecukupan likuiditas valuta asing dan rupiah di dalam negeri, mencakup :

a. Perpanjangan tenor FX Swap dari paling lama 7 hari menjadi sampai 1 bulan ( berlaku sejak 15 Oktober 2008 ).
b. Menyediakan pasokan valuta asing bagi perusahaan domestic melalui perbankan ( berlaku sejak 15 Oktober 2008 ).
c. Penurunan rasio GWM valuta asing untuk Bank Umum Konvensional dan Syariah dari 3,0 % menjadi 1,0 % ( berlaku sejak 13 Oktober 2008 ).
d. Pencabutan ketentuan pasal 4 PBI No. 7/1/PBI/2005 tentang batasan posisi saldo harian pinjaman luar negeri jangka pendek ( berlaku sejak 13 Oktober 2008 ).
e. Penyederhanaan perhitungan GWM rupiah ( berlaku sejak 24 Oktober 2008 ) menjadi hanya dalam bentuk statutory reserves sebesar 7,5 % dari DPK agar Likuiditas rupiah dalam system perbankan menjadi lebih memadai.

Khusus mengenai ketentuan Giro Wajib Minimum ( GWM ) rupiah, Bank Indonesia menyempurnakan cara pemenuhan ketentuan GWM rupiah sebagai berikut :

– GWM rupiah yang telah ditetapkan sebesar 7,5 % tersebut terdiri dari GWM utama ( statutory reserve ) dan GWM sekunder ( secondary reserve ) dengan rincian :
– a. 5 % berupa GWM utama ( statutory reserve ) berupa simpanan giro di Bank Indonesia. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal 24 Oktober 2008.
– b. 2,5 % berupa GWM sekunder ( secondary reserve ) dalam bentuk SBI dan atau SUN dan atau simpanan Giro di Bank Indonesia.
– Masa transisi untuk pemenuhan secondary reserve ditetapkan selama 1 tahun sejak berlakunya ketentuan atau selambat-lambatnya tanggal 24 Oktober 2009.
– Bank yang belum dapat memenuhi kewajiban secondary reserve dalam masa transisi tidak dikenakan sanksi.
– Bank Indonesia tidak memberikan jasa giro ( remunerasi ) atas saldo simpanan giro di Bank Indonesia maupun atas secondary reserve.

Outlook Ekonomi Kedepan

Prakiraan Perekonomian Dunia :

Di tahun 2009, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan mengalami perlambatan dengan tingkat inflasi yang lebih rendah
2008 2009 *
Assumption :
World Output
World Trade Volume
World Non Fuel Commodity Price
Oil Price ( Minas )
% yoy
% yoy
% yoy
$/brl
3,7
4,6
9,4
95,0
2,2
2,1
– 18,7
80,0
• = preliminary figures
• Sumber : WEO

Asumsi Makro Perekonomian Indonesia – APBN

Diperlukan kerja keras untuk dapat mencapai asumsi makro ekonomi sebagimana yang telah ditetapkan pemerintah tahun 2008 dan 2009
Variabel makro 2008 * 2009 *
Pertumbuhan Ekonomi ( % )
Inflasi ( % )
Nilai Tukar ( Rp / USD )
SBI 3 bulan ( % )
Harga Minyak ( USD / Barel ) 6,4
6,5
9100
7,5
95,0 6,0
6,2
9400
7,5
80,0
*APBN – P 2008
** APBN 2009

Faktor – factor Resiko

1. Resiko terhadap perekonomian Indonesia terutama didorong oleh sector eksternal :
• Krisis global yang terus berlanjut yang mengakibatkan perlemahan eksternal demand serta turunnya harga-harga komoditas global.
• Kinerja BOP tidak sebaik 2008.
• Berlanjutnya krisis keuangan global akan mendorong perilaku Risk Aversion dan menyulitkan aliran masuk modal asing ke dalam negeri.
• Secara keseuruhan, tekanan dari sector eksternal masih meningkat.
2. Perekonomian domestic masih akan menghadapi resiko pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dan stabilitas makro ( ditandai oleh stabilitas rupiah yang masih tertekan ).
3. Perkembangan nilai tukar dapat meningkatkan tekanan inflasi dan APBN serta tekanan pada sector riil.

Diringkas dari materi : Direktorat Statistis Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia.
( Sosialisasi di BI Samarinda )

1 Komentar

  1. 4) Accept the fact that there’s a good possibility that the initial interest rate of the car financing would be high.
    Special finance, bad credit car loans, no credit car loans, no money down,
    alternative lending. Measure of risk premium, Spain 10-year Treasury yield spreads over
    German government bonds over the same period rising.
    It will show your projected sales and profits
    and cash flow, out of which we build the financing strategy.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s