Moralitas yang Hilang


Moralitas pengabdian untuk masyarakat (banyak) masih adakah…?

Kalau pada saat jaman penjajahan dahulu, kita selalu mendengar hampir dari setiap penjuru negeri ini ada pahlawan-pahlawan yang diagungkan oleh masyarakatnya karena keberanian mereka untuk mendobrak kekuasaan penjajah demi kemerdekaan masyarakatnya. Kemerdekaan untuk menjadikan masyarakatnya lebih memiliki kebebasan untuk menjadi lebih baik dan bermartabat menjadi manusia seutuhnya yang punya segala keinginan. Cut Nyak Dien dari Aceh, Si Singa Mangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Hasanudin, Pangeran Pattimura dan lain-lainnya. Gambaran yang paling dekat dengan kita mungkin adalah Sukarno ( Presiden I Republik Indonesia ), Sukarno berani untuk ditahan oleh Belanda dan Jepang untuk mewujudkan kemerdekaan negeri ini yang tentunya ingin melihat masyarakat Indonesia menjadi lebih maju dan mempunyai nilai di dunia Internasional. Pemimpin-pemimpin seperti ini masih adakah di negeri kita ini, atau dalam wilayah yang lebih kecil di Kalimantan Timur ini….? Yang berjuang untuk kemajuan daerahnya, daerah yang mandiri tanpa tergantung pada pusat, yang punya gagasan – gagasan spektakuler dan berani mewujudkannya tanpa pamrih.

Mari kita simak fenomena-fenomena yang ada dibawah ini. Penulis hanya mengambil empat hal yang sering menjadi berita penting di negeri ini. Gambaran yang ada dibawah hanyalah ingin mengajak para pembaca, pemerhati masalah moral yang ada di negeri ini untuk menjadi kajian yang lebih detail dan lengkap untuk menyikapinya. Penulis hanyalah seorang pekerja di perusahaan dan salah satu kader partai politik di Indonesia yang kebetulan belum lolos untuk mengikuti Pemilu mendatang.

Dunia Pengusaha dan Pekerja,

Undang-undang no,1 tahun 2003
Pasal masalah pemutusan hubungan kerja, lebih banyak memberikan peluang untuk pengusaha melakukan kegiatan pemerasan tenaga kerja tanpa melakukan perbaikan kondisi kesejahteraan karyawan/pekerja.
Adanya peluang pengusaha untuk melakukan pemakaian tenaga kerja out sourcing ( tenaga kerja borongan ),
Tak adanya pesangon bagi pekerja yang memadai, sehingga hal ini membuat pengusaha melakukan PHK ( Pemutusan Hubungan Kerja ) secara sepihak dan dengan mudah melakukan hal tersebut.
Penyelesaian perselisihan yang berkepanjangan, perlu waktu lama, sehingga pekerja akan dimarjinalkan posisi tawarnya.
Kondisi pasar tenaga kerja yang sempit, memperparah kondisi tersebut. Alasan pengusaha mem-phk pekerja menjadi lebih punya nilai tawar yang tinggi, dan pemerintah tentunya akan lebih banyak sebagai mediator yang tidak bisa berbuat banyak untuk melindungi nasib pekerja.

Produktifitas pekerja yang rendah disebagian besar pekerja Indonesia, dikarenakan paradigma kita lebih banyak mengarah pada : Sedikit bekerja banyak hasil – pendapatan.
Perasaan memiliki perusahaan menjadi kurang atau bisa dikatakan hampir tidak ada, hal ini bisa dilihat dari banyaknya limbah yang dikeluarkan dari bahan yang diolah, alat-alat kerja yang sering rusak, pemborosan material dan energi. Mereka mungkin tidak berpikir bahwa kelanggengan perusahaan tergantung juga pada moral-moral yang baik dari mereka.

Anggota Dewan

Hampir bisa dikatakan sebagian besar anggota dewan menjadi punya lebih banyak uang atau harta dibandingkan dengan sebelum menjadi anggota dewan.
Anggota dewan lebih banyak mengunjungi masyarakat dan berdialog pada saat menjelang pemilihan anggota dewan saja. Setelah terpilih tidak ada lagi inisiatif untuk dekat dan mendengarkan lagi secara langsung yang terjadi di masyarakat. Mereka mungkin punya anggapan bahwa aspirasinya masyarakat cukup dibaca dari info media massa atau berita dari televisi saja.
Program-program yang dibuat di dewan lebih banyak bagaimana membuat peraturan-peraturan yang sifatnya hanya tertulis tanpa tahu efektifitas pelaksanaannya, pembuatan RAPBD yang hanya monoton tanpa adanya semangat untuk membangun daerah jadi lebih baik dari sisi perekonomian, tata kota atau wilayah yang lebih tertata untuk memajukan masyarakat daerah dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Anggota dewan lebih banyak menyoroti bagaimana meningkatkan income anggota dewan, kesejahteraannya, bisnisnya ( kalau ada ) dan tak ada lagi semangat untuk memperbaiki sarana-prasarana memajukan tingkat pendidikan masyarakat.

Pemilihan Pimpinan Daerah ( Wali Kota, Bupati dan Gubernur )

Cobalah perhatikan kondisi saat ini menjeleang pemilihan Gubernur di Kalimantan Timur, banyak sekali publikasi yang menunjukkan para calon mendatangi daerah-daerah bahkan sampai dengan tingkat RT , RW ataupun kelurahan mereka selalu datang untuk berdialog sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat secara langsung. Masyarakat dihibur dengan hiburan dengan mendatangkan artis-artis ibu kota ataupun kesenian-kesenian daerah, dan dana yang dipakaipun mungkin dana pribadi.

Mari kita saksikan apakah setelah mereka terpilih, mereka akan melakukan hal yang sama; memberikan hiburan gratis , berdialog langsung dengan masyarakat , memberikan bantuan materi sebagaimana pada saat mereka mempromosikan diri. Wallahualam, saya pribadi sangat pesimis hal ini akan terjadi.

Urbanisasi

Setiap tahun sekali kita melihat fenomena dimana daerah-daerah dengan tingkat penghasilan masyarakatnya tinggi ( perkotaan ) akan selalu kedatangan penduduk dari daerah dengan taraf kehidupan atau penghasilan yang lebih rendah, atau dengan tingkat lapangan kerja yang minim. Mereka datang dengan tujuan untuk mencari pekerjaan ataupun berusaha menjadi PKL atau yang lainnya, dengan satu mimpi memperbaiki taraf kehidupannya menjadi lebih baik atau memiliki penghasilan yang memadai untuk menyambung hidup mereka.

Tetapi, mari kita saksikan dimana sudah banyak daerah mulai memperkenalkan peraturan untuk menahan kedatangan mereka. Alasannya adalah untuk menghindari tingkat kriminalitas yang makin buruk di daerahnya, sehingga yang terjadi adalah pandangan bahwa mereka adalah pendatang yang tidak baik atau dengan kata yang lebih halus sebagai pendatang yang tidak diharapkan.

Gambaran-gambaran di atas adalah fenomena-fenomena dan fakta yang terjadi pada masyarakat kita pada saat ini. Secara pribadi saya berani mengatakan bahwa moralitas kita sedang mengarah kepada kebendaan atau materi atau memperkaya diri sendiri . Baikkah hal ini terjadi di bumi kita, khususnya untuk negeri ini……?

Opini Sanjaya,

Link :
http://mediafire.com/bangjay
http://id.wordpress.com/tag/parta-pelopor
http://arodam-pelopor.blogspot.com/
http://melilean.com/?id=bangjay
http://miyunerclub.com/?id=bangjay

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s